KONSEP LABA (INCOME CONCEPT)

Published 13 Desember 2011 by ansharpemimpi

1.    KARAKTERISTIK LABA

Karakteristik laba berkaitan dengan identifikasi sifat dari laba sehingga memungkinkan untuk menganalisis transaksi/peristiwa yang dapat mempengaruhi laba. Karakteristik laba dapat diidentifikasikan dengan memahami cara batasan pengertian laba.

A.  Pengertian Laba

Secara umum para pakar dalam bidang akuntansi mendefiniskan pengertian laba dengan berbagai macam deskripsi seperti, Commite On Terminology (Sofyan Syafri H.,2004) dalam Aliyal Azmi (2007:12) mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Kemudian menurut Stice, Stice, Skousen (2009:240) laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya.

Selanjutnya menurut Suwardjono (2008 : 464) laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat dalam kegiatan produksi dan penyerahan barang / jasa).  Dan menurut Soemarso SR (2004 : 227) angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah Laba Bersih (net income). Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi, angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih (net loss).

Menurut Smith Skousen (1989:119) Laba Bersih merupakan perbedaan antara jumlah pendapatan yang diperoleh suatu satuan usahan selama periode tertentu dan jumlah biaya yang dapat diaplikasikan kepada pendapat. Kemudian menurut Belkaoui (1993) Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar keuangan yang merniliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, determinan pada kebijakan pembayaran dividen, pedoman investasi, dan pengambilan keputusan, dan unsur prediksi.

Sedangkan menurut Rahmat (2006:9) Laba dipandang sebagai suatu peralatan prediktif yang membantu dalam peramalan laba mendatang dan peristiwa ekonomi yang akan datang. Laba terdiri dari hasil operasional, atau luar biasa, dan hasil-hasil non-operasional, atau keuntungan dan kerugian luar biasa, dimana jumlah keseluruhannya sama dengan laba bersih. Laba biasa dianggap bersifat masa kini (current) dan berulang, sedangkan keuntungan dan kerugian luar biasa tidak demikian.

Namun berbeda dengan IAI yang memiliki pengertian sendiri mengenai income, IAI justru tidak menerjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah penghasilan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, (IAI,1994) mengartikan income (penghasilan) yakni Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanam modal. (paragrap. 70). Selanjutnya dalam paragrap 74 disebutkan bahwa, definisi penghasilan baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).

Tidak adanya persamaan pendapat untuk mendefinisikan laba secara tepat disebabkan oleh luasnya penggunaan konsep laba. Para pemakai laporan keuangan mempunyai konsep laba sendiri yang dianggap paling cocok untuk pengambilan keputusan mereka. Fisher (1912) dan Bedford (1965) meyatakan bahwa pada dasarnya ada tiga konsep laba yang secara umum dibicarakan dan digunakan dalam bidang ekonomi. Konsep laba tersebut adalah:

  1. Psychic income, yang menunjukkan konsumsi barang/jasa yang dapat memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
  2. Real income, yang menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang ditunjukkan oleh kenaikan cost of living.
  3. Money income, yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber ekonomi yang digunakan untuk konsumsi sesuai dengan biaya hidup cost of living.

Ketiga konsep tersebut semuanya penting, meskipun pengukuran terhadap Pschic Income sulit untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan Pschic Income adalah konsep psikologi yang tidak dapat diukur secara langsung, namun dapat ditaksir dengan menggunakan real income. Keinginan manusia tersebut hanya dapat dipenuhi pada berbagai tingkatan, sebagaimana seseorang memperoleh Real Income. Dipihak lain, Money Income meskipun mudah diukur, tetapi tidak mempertimbangkan perubahan nilai suatu unit moneter. Atas dasar alasan ini, para ekonom memeusatkan perhatiannya pada penentuan real income. Fisher (1912) juga berpendapat bahwa real income adalah konsep income yang praktis bagi akuntan.

Karena cara pengukuran dan pendefinisian laba seperti di atas, laba akuntansi sering tidak konsisten dengan pengertian laba ekonomi. Menurut Mitchel (dikutip Bedford, 1965) perbedaan antara laba ekonomi dan laba akuntansi disebabkan oleh perbedaan konsep yang melandasinya. Ekonom mendefinisikan laba dari sudut pandang orang, sekelompok orang atau masyarakat keseluruhan laba ekonomi dipandang sebagai tambahan kemakmuran yang ditimbulkan kegiatan ekonomi dengan perusahaan sebagai wadah yang akan dinikmati oleh seluruh pihak yang ada dalam kegiatan ekonomi tersebut.

Disisi lain, akuntan mendefinisikan laba dari sudut pandang perusahaan sebagai satu kesatuan. Laba akuntansi (accounting income) secara operasional didefinisikan sebagai perbedaan antara pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi sselama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Belkaoui (1993) menyebutkan bahwa laba akuntansi memiliki lima karakteristik sebagai berikut:

  1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual terutama yang berasal dari penjualan barang/jasa.
  2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi dan mengacu pada kinerja perusahaan selama satu periode tertentu.
  3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus tentang definisi pengukutan dan pengakuan pendapatan.
  4. Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya (expenses) dalam bentuk cost historis.
  5. Laba akuntansi menghendaki adanya penandingan (matching) antara pendapatan dengan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.

B.  Keunggulan dan Kelemahan Laba Akuntansi

Keunggulan laba akuntansi dapat dirumuskan sebagai berikut (Belkaoui, 1993):

  1. Laba akuntansi teruji dalam sejarah dimana pemakai laporan keuangan masih mempercayai bahwa laba akuntansi masih bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi.
  2. Laba akuntansi diukur dan dilaporkan secara obyektif dapat diuji kebenarannya, karena didasarkan pada transaksi/fakta aktual, yang didukung bukti obyektif.
  3. Atas dasar prinsip realisasi dalam mengakui pendapatan, laba akuntansi memenuhi kriteria konservatisme. Artinya, akuntansi tidak mengakui perubahan nilai tetapi hanya mengakui untung yang direalisasi (realized gains).
  4. Laba akuntansi dipandang bermanfaat untuk tujuan pengendalian terutama pertanggungjawaban manajemen.

Untuk kelemahan laba akuntansi dapat dirumuskan sebagai berikut (Belkaoui, 1993):

  1. Laba akuntansi gagal mengakui kenaikan nilai aktiva yang belum direalisasi dalam satu periode karena prinsip cost historis dan prinsip realisasi.
  2. Laba akuntansi yang didasarkan pada cost historis mempersulit perbandingan laporan keuangan karena dengan adanya perbedaan metode perhitungan cost dan metode alokasi.
  3. Laba akuntansi yang didasarkan prinsip realisasi, cost historis dan konservatisme dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan tidak relevan.

 

C.  Tujuan Pelaporan Laba

Tujuan pelaporan laba adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang  berkepentingan dalam pelaporan keuangan. Adapun informasi tentang laba perusahaan dapat digunakan:

  1. Sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on invested capital)
  2. Sebagai pengukur prestasi manajemen
  3. Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
  4. Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
  5. Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
  6. Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
  7. Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
  8. Sebagai dasar pembagian deviden

 

2.    PENGUKURAN DAN PENGAKUAN LABA

Pengukuran terhadap laba merupakan penentuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan. Dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) menyebutkan bahwa, laba (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi di masa mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan jumlahnya dapat diukur dengan andal. (paragrap 92).

Secara konseptual ada 3 (tiga) pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba. Pengukutan tersebut adalah pendekatan transaksi, pendekatan kegiatan dan pendekatan mempertahankan kapital/kemakmuran (capital maintenance).

A.  Pendekatan Transaksi

Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba) terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi aktiva dalam perusahaan.

Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu:

  1. Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya: atas dasar produk/konsumen
  2. Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi
  3. Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode
  4. Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi eksternal untuk berbagai tujuan
  5. Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.

B.  Pendekatan Kegiatan

Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi laba bisa timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas. Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan dari pendekatan transaksi. Hal ini disebabkan pendekatan kegiatan dimulai dengan transaksi sebagai dasar pengukuran.

Kebaikan pendekatan kegiatan adalah:

  1. Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha memperoleh capital gain.
  2. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tanggung jawab manajemen.
  3. Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.

 

C.  Pendekatan Mempertahankan Kapital/Kemakmuran (Capital Maintenance)

Atas dasar pendekatan ini, laba diukur dan diakui setelah kapital awal dapat dipertahankan. Sebelum membahas pengukuran laba atas dasar konsep mempertahankan kemakmuran/kapital.

Dalam konsep mempertahankan kemakmuran, kapital disini dimaksudkan sebagai kepaitgal dalam arti kekayaan bersih dalam artian luas dan dalam berbagai bentuknya. Jadi kapital diartikan sebagai sekelompok kekayaan tanpa memeperhatikan siapa yang memiliki kekayaan tersebut. Kam (1990) mendefiniskan laba (income) merupakan perubahan dalam kapital perusahaan diantara dua titik waktu yang berbeda (awal dan akhir), diluar perubahan karena investasi oleh pemilik dan distribusi kepada pemilik, dimana kapital dinyatakan dalam bentuk nilai (value) dan didasarkan pada skala pengukuran tertentu (Paragrap 194).

Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode. [Laba = total aktiva neto (akhir periode) – kapital yang diinvestasikan (awal periode)]. Konsep pengukuran laba ini disebut dengan konsep mempertahankan kapital/kemakmuran (wealth or capital maintenance concept).

Kapital yang digunakan dalam konsep ini adalah kapital neto (net worth) atau aktiva neto. Kapital dinyatakan dalam bentuk nilai ekonomi pada skala pengukuran tertentu. Pengukuran terhadap kapital sangt dipengaruhi oleh nilai (unit pengukur), jenis kapital dan skala pengukuran. Perbedaan terhadap ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan perbedaan besarnya laba yang diperoleh.

1.    Nilai (Unit Pengukur)

Nilai menunjukkan preferensi seseorang terhadap barang tertentu karena adanya manfaat yang diharapkan dari barang tersebut. Oleh karena nilai bersifat subyektif fan sulit diukur, maka harga pasar dianggap sebagai nilai yang paling obyektif untuk mengukur suatu bnarang (obyek) tersebut.

2.    Jenis Kapital

Dalam akuntansi, kapital secara umum diartikan sebagai aktiva neto, yaitu selisih antara jumlah aktiva dan jumlah hutang. Laba tidak akan diperoleh bila jumlah kapital awal tidak dapat dipertahankan. Pengukuran terhadap besarnya laba sangat bergantung pada sudut pandang yang digunakan dalam mengartikan kapital. Pada dasarnya pengertian kapital dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu:

a.    Kapital Finansial

Kapital finansial lebih memusatkan perhatian pada nilai moneter dari aktiva dibandingkan nilai hutang. Oleh karena itu, kapital ini menunjukkan konstribusi pemilik ke dalam perusahaan yang mendanai aktiva tersebut. Dengan demikian kapital menunjukkan kas atau setaranya yang diinvestasikan pemilik ditambah dengan laba (earning) yang diinvestasikan kembali dalam perusahaan (laba ditahan).

b.   Kapital Fisik

Kapital fisik memusatkan perhatian pada kemampuan (sumber-sumber ekonomi) yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba melalui kegiatan produksi barang/jasa. Atas dasar kapital fisik, kapital menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mencapai tingkat kapasitas fisik produksi ditunjukkan oleh aktiva yang dimiliki pada periode berjalan, maka nilai (niali pengukur) yang relevan adalah current cost atau replacement cost. Kapasitas produksi tersebut dapat berupa:

  •  Aktiva nonmoneter dimiliki perusahaan
  • Volume produksi
  • Volume penjualan

3.    Skala Pengukuran

Pengukuran harus memiliki suatu skala untuk memberi arti atas angka-angka yang ada. Oleh karena itu, skala pengukuran dalam akuntansi dapat dibagi menjadi dua yaitu skala nominal dan skala daya beli konstan.

a.    Skala Nominal

Unit pengukur yang digunakan dalam skala pengukuran nominal adalah jumlah rupiah (nominal) yang telah terjadi dan dicatat dalam akuntansi tanpa memperhatikan perubahan daya beli. Dengan demikian, jumlah tersebut dapat ditambahkan bersama-sama atau dikurangkan satu sama lain. Skala ini digunakan dalam model akuntansi konvensional.

b.   Skala Daya Beli Konstan

Unit pengukur yang digunakan adalah unit moneter yang nilainya dinyatakan dalam bentuk daya beli. Oleh karena daya beli uang berubah, maka unit moneter sebagai indikator nilai atas dasar skala daya beli konstan, unit moneter diubah dengan menggunakan indeks tertentu (misalnya indeks harga konsumen). Atas dasar skala ini, semua nilai (rupiah) dapat menunjukkan daya beli yang sama.

 

3.    Elemen Laba

Laba dapat dijadikan untuk menilai keberhasilan perusahaan. Pengukuran terhadap laba tidak akan memberikan informasi yang bermanfaat bila tidak menggambarkan sebab-sebab timbulnya laba. Ada dua konsep yang digunakan untuk menentukan elemen laba perusahaan, yaitu:

a.    Konsep Laba Periode (Earnings)

Konsep laba periode dimaksudkan untuk mengukur efisiensi suatu perusahaan. Efisiensi berhubungan dengan penggunaan sumber-sumber ekonomi perusahaan untuk memperoleh laba. Konsep laba periode memusatkan perhatiannya pada laba operasi periode berjalan yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Oleh karena itu, yang termasuk elemen laba adalah peristiwa atau perubahan nilai yang dapat dikendalikan manajemen dan berasal dari keputusan-keputusan periode berjalan.

b.   Laba Komprehensif (Comprehensif Income)

FASB dalam SFAC No. 3 dan 6 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan laba komprehensif adalah total perubahan aktiva bersih (ekuitas) perusahaan selama satu periode, yang berasal dari semua transaksi dan kegiatan lain dari sumber selain sumber yang berasal dari pemilik. Atau dengan kata lain, laba komprehensif terdiri atas seluruh perubahan aktiva bersih yang berasal dari transaksi operasi. FASB menjelaskan bahwa alasan utama digunakannya istilah laba komprehensif adalah untuk membedakan laba komprehensif dengan laba periode.

Perbandingan Laba Periodik dengan Laba Komprehensif

 

Net Income

Earning

  • Pendapatan
  • Biaya-Biaya
  • Keuntungan dari sumber yang tidak normal

200

140

(10)

200

140

(10)

  • Laba dari operasi normal
  • Rugi penjualan aktiva tetap

70

(10)

70

(10)

  • Laba sebelum pos luar biasa dan pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi
  • Pos luar biasa
  • Perubahan kumulatif perubahan prinsip akuntansi

60

(10)

(30)

60

(10)

  • Earning

50

  • Laba bersih (net income)

20

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa antara laba periode dan laba komprehensif mempunyai komponen utama yang sama yaitu, pendapatan, biaya, untung dan rugi. Akan tetapi keduanya tidak sama karena beberapa  komponen tertentu yang menjadi elemen laba komprehensif tidak dimasukkan dalam perhitungan laba periode. Komponen tersebut adalah:

a)    Pengaruh penyesuaian akuntansi tertentu untuk periode lalu dialami dalam periode berjalan diperlukan sebagai penentu besarnya laba bersih.

b)   Perubahan aktiva bersih tertentu lainnya (holding gains and losses) yang diakui dalam periode berjalan seperti untung rugi perubahan harga pasar investasi saham sementara dan untung atau rugi penjabaran mata uang asing.

Dalam laporan keuangan yang berdasarkan aturan FASB harus menunjukkan laba periode dan laba komprehensif. Maka laporan yang harus disajikan adalah laporan laba periode (statement of earning) dan laporan laba komprehensif (statement of comprehensive income). Hubungan antara laba periode dan laba komprehensif dapat digambarkan sebagai berikut:

+

(-)

+

(-)

=

PendapatanBiayaKeuntungan

Kerugian

Earning

200

140

10

20

50

+

(-)

+

=

EarningPenyesuaian pengaruh kumulatifPerubahan dalam ekuitas bukan dari pemilik

Comprehensive income

50

20

10

40

DAFTAR PUSTAKA

Ghozali Imam dan Anis Chariri. 2007. Teori Akuntansi: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Kieso E. Donald, Weygart J. Jerry, Warfield D. Terry. 2002. Intermediate Accounting, Ed. 10. Jakarta: Erlangga

Stice K. Earl, Stice D. James, Skosusen Fred. K. 2004. Intermediate Accounting, Ed 15. Jakarta: Salemba Empat

About these ads

3 comments on “KONSEP LABA (INCOME CONCEPT)

  • Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: